Wanda Brooklins
New York, 28th of September, 08:48pm
Pinewood Hotel terletak di jantung kota New York. Tidak jauh dari times square sehingga Wanda tidak kesulitan dalam mencari tempat ini. Acara reunian akan diadakan pada hotel ini di ballroom lantai 14. Malam itu ia menggunakan dress velvet dengan selendang berwarna puce. Dress turunan dari ibunya. Wanda memang tidak suka berbelanja dan kebetulan ia juga menyukai gaya berpakaian yang sedikit tua.
Wanda membayar taksinya dan berjalan keluar sambil memegang surat undangannya. Jamnya menunjukkan jam sembilan kurang sedikit. Seorang bellboy membukakan pintunya. Wanda berjalan menuju resepsionis cantik yang sibuk mengetik di depan komputer.
“Ehm, permisi.”
“Aww, selamat malam miss. Selamat datang di Pinewood Hotel. Bisa saya bantu?”
“Saya datang untuk acara reunian,” Wanda menyodorkan undangannya. ”Longscape Memorials?”
“Oh, tamu Mr. Connely? Velvetian Ballroom di lantai empat belas miss. Silahkan nona belok di sebelah kanan dan anda akan menemukan liftnya disana.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Dalam beberapa langkah, Wanda sudah memencet pintu lift dan menunggu dengan manis di depannya. Mendadak ia teringat akan ucapan si resepsionis.
“Siapa tadi yang mengadakan acara? Mr. Connely kalau tidak salah? Homeroom teacher ku?”
Mr. Connely adalah guru homeroom nya. Ia sudah lumayan tua namun tingginya yang menjulang membuatnya bersikap congkak dan arogan. Ia mengajar Fisika sehingga tidak heran ia menjadi guru yang paling disebali. Namun sebenarnya ia cukup baik. Wanda banyak dibantunya dalam tugas akhir. Sayang Wanda baru menyadari sifatnya yang baik di enam bulan terakhirnya bersekolah.
Tetapi bisa dibilang aneh jika Mr. Connely yang mengadakan acara reunion akbar seperti ini. Pertama, biasanya komite murid yang mengadakan. Dan kedua, Mr.Connely adalah salah satu guru yang menentag ide Prom Night. Ia menganggap acara tersebut hanya bentuk implementasi budaya anak muda yang suka hura-hura. Namun gagasannya tersebut tidak digubris seorang pun. Bahkan Mrs. Flakes sekalipun.
TING
Pintu lift terbuka dan Wanda pun masuk. Ia memencet angka 14 dan berdiri menunggu.
*****
Lantai empat belas terdiri atas dua ballroom. Goldcircle yang berukuran besar dan Velvetian yang berukuran lumayan. Dekorasi di sepanjang hallway hotel ini bisa dibilang elegan. Dengan hardwood floors dan karpet bulu yang lebut. Ingin rasanya Wanda mencabut beberapa untuk dipasang di flat kecilnya. Ia berbelok ke kanan di persimpangan pertama dan terus berjalan sampai melihat sebuah meja kecil yang dilapisi taplak berwarna beige pucat. Seorang wanita duduk disana dan terlihat bosan menunggu guest-guest yang belum semuanya datang.
“Permisi.”
“Hi, selamat datang! Siapa namanya?”
“Wanda Brooklins.”
Wanda menyodorkan surat undangannya.
“Wanda? Ini aku Jacklyn! Ingat kan? Cheerleader Squad?”
“Ohh ya, kau dulu pernah menyiram ku dengan cokes!”
“Hahahaha, kau lucu sekali!. Ehm, apa ini?”
Jacklyn mengeluarkan sebuah greeting card berbentuk hati.
“Bagian dari undangannya kan?”
“Setahuku tidak. Ini, mungkin terselip.”
Wanda mengambil greeting card itu dan dengan terbingung-bingung, memasukkannya kedalam tas kecil yang sedari tadi ia bawa.
“Ehm, Jacklyn. Kalau boleh bertanya, siapa sih yang mengadakan acara ini?”
“Well, John Halliwell menelepon ku tiga minggu yang lalu dan mengatakan bahwa Mr. Connelly menggagaskan acara ini.”
“ Tapi kan Mr.Connely…”
“Aku tahu, bukan penyuka acara hura-hura kan? But well, asalkan kita tidak perlu membayar sedikit pun.” Ia tersenyum manis. Jacklyn memang begitu dari dulu. Picik dan pelit.
Wanda tersenyum dan melangkah masuk kedalam pintu besar tersebut.
Hardcore
4 jam yang lalu

