Selasa, 05 Mei 2009

Silhouette Murders Chapter 3.3

Wanda Brooklins
New York, 28th of September, 08:48pm
Pinewood Hotel terletak di jantung kota New York. Tidak jauh dari times square sehingga Wanda tidak kesulitan dalam mencari tempat ini. Acara reunian akan diadakan pada hotel ini di ballroom lantai 14. Malam itu ia menggunakan dress velvet dengan selendang berwarna puce. Dress turunan dari ibunya. Wanda memang tidak suka berbelanja dan kebetulan ia juga menyukai gaya berpakaian yang sedikit tua.
Wanda membayar taksinya dan berjalan keluar sambil memegang surat undangannya. Jamnya menunjukkan jam sembilan kurang sedikit. Seorang bellboy membukakan pintunya. Wanda berjalan menuju resepsionis cantik yang sibuk mengetik di depan komputer.
“Ehm, permisi.”
“Aww, selamat malam miss. Selamat datang di Pinewood Hotel. Bisa saya bantu?”
“Saya datang untuk acara reunian,” Wanda menyodorkan undangannya. ”Longscape Memorials?”
“Oh, tamu Mr. Connely? Velvetian Ballroom di lantai empat belas miss. Silahkan nona belok di sebelah kanan dan anda akan menemukan liftnya disana.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Dalam beberapa langkah, Wanda sudah memencet pintu lift dan menunggu dengan manis di depannya. Mendadak ia teringat akan ucapan si resepsionis.
“Siapa tadi yang mengadakan acara? Mr. Connely kalau tidak salah? Homeroom teacher ku?”
Mr. Connely adalah guru homeroom nya. Ia sudah lumayan tua namun tingginya yang menjulang membuatnya bersikap congkak dan arogan. Ia mengajar Fisika sehingga tidak heran ia menjadi guru yang paling disebali. Namun sebenarnya ia cukup baik. Wanda banyak dibantunya dalam tugas akhir. Sayang Wanda baru menyadari sifatnya yang baik di enam bulan terakhirnya bersekolah.
Tetapi bisa dibilang aneh jika Mr. Connely yang mengadakan acara reunion akbar seperti ini. Pertama, biasanya komite murid yang mengadakan. Dan kedua, Mr.Connely adalah salah satu guru yang menentag ide Prom Night. Ia menganggap acara tersebut hanya bentuk implementasi budaya anak muda yang suka hura-hura. Namun gagasannya tersebut tidak digubris seorang pun. Bahkan Mrs. Flakes sekalipun.
TING
Pintu lift terbuka dan Wanda pun masuk. Ia memencet angka 14 dan berdiri menunggu.
*****
Lantai empat belas terdiri atas dua ballroom. Goldcircle yang berukuran besar dan Velvetian yang berukuran lumayan. Dekorasi di sepanjang hallway hotel ini bisa dibilang elegan. Dengan hardwood floors dan karpet bulu yang lebut. Ingin rasanya Wanda mencabut beberapa untuk dipasang di flat kecilnya. Ia berbelok ke kanan di persimpangan pertama dan terus berjalan sampai melihat sebuah meja kecil yang dilapisi taplak berwarna beige pucat. Seorang wanita duduk disana dan terlihat bosan menunggu guest-guest yang belum semuanya datang.
“Permisi.”
“Hi, selamat datang! Siapa namanya?”
“Wanda Brooklins.”
Wanda menyodorkan surat undangannya.
“Wanda? Ini aku Jacklyn! Ingat kan? Cheerleader Squad?”
“Ohh ya, kau dulu pernah menyiram ku dengan cokes!”
“Hahahaha, kau lucu sekali!. Ehm, apa ini?”
Jacklyn mengeluarkan sebuah greeting card berbentuk hati.
“Bagian dari undangannya kan?”
“Setahuku tidak. Ini, mungkin terselip.”
Wanda mengambil greeting card itu dan dengan terbingung-bingung, memasukkannya kedalam tas kecil yang sedari tadi ia bawa.
“Ehm, Jacklyn. Kalau boleh bertanya, siapa sih yang mengadakan acara ini?”
“Well, John Halliwell menelepon ku tiga minggu yang lalu dan mengatakan bahwa Mr. Connelly menggagaskan acara ini.”
“ Tapi kan Mr.Connely…”
“Aku tahu, bukan penyuka acara hura-hura kan? But well, asalkan kita tidak perlu membayar sedikit pun.” Ia tersenyum manis. Jacklyn memang begitu dari dulu. Picik dan pelit.
Wanda tersenyum dan melangkah masuk kedalam pintu besar tersebut.

Jumat, 24 April 2009

Silhouette Murders Chapter 3.2

Molly Gingerhands
New York, 28th of September, 8:34am
You’ve got 2 new message
“Hmm, pesan dari siapa?” Molly menggengam handphonenya sambil memandangi pemandangan kota new york pagi dari hotelnya. Ia menginap di Avalon yang terletak 16 E 32nd St. Sinar matahari pagi bersinar tertutupi gedung-gedung tinggi pencakar langit dari kejauhan. Sungguh pemandangan yang patut di ingat seumur hidup.
“…..PIIIIP…..Hi Molly, ini Rebecca. Aku sudah sampai di New York mala mini, baru saja! Hmm. Aku menginap di, di, apa namanya? Oh ya, 60 Thompson di dekat SoHo. Jalan yuk! Hari ini aku akan ke Times Square. Call me, kalau mau ikut!.....PIIIIP…..”
“…..PIIIP…..Molly, Andrea’s here! Claudia bilang appointmentmua dengan Vera Wang diadakan hari rabu ini. Alamt kantornya akan diemail hari ini. By the way, Good luck ya buat reuniannya nanti!.....PIIIP….”
Molly menutup handphonenya dan melemparnya ke kasur tanpa melepaskan matanya dari pemandangan di jendela itu. Ia berbalik dan mengeluarkan seluruh isi tasnya ke atas kasur. Ia kartu kunci kamarnya dan mengambil sebuah cardigan hitam. Setelah menutup pintu kamarnya ia berjalan menuju pintu lift.
DING
Di dalamnya seorang figur lelaki berbadan besar berdiri di sisi pojok kanan elevator. Well lumayan menyeramkan, kalau boleh dibilang. Rambutnya hitam pekat dan ditarik ke belakang. Wangi gelnya masih bisa tercium dari depan pintu lift. Molly berjalan masuk. Tombol lantai satu telah ditekan. Ia berdiri di samping lelaki itu.
Sang pria menatap Molly perlahan. Molly tidak menghiraukannya. Namun pria tersebut tidak berhenti di situ saja. Ia menatap wajah Molly lekat-lekat seperti menelanjanginya. Molly yang mulai merasa tidak nyaman menatap pria itu kembali tepat di matanya.
“Ada masalah, tuan?”
Lelaki tersebut kaget.
“Tidak, nona. Tapi aku sepertinya mengenal mu sebelumnya.”
“Well, gombalanmu bohong sekali. Aku tinggal di Seattle dan bukan di New York.”
“Seattle? Maaf bolehkan aku bertanya? Apakah kau lulusan SMA disini?”
“Bagaimana kau ta…. Kau…?”
“Longscape Memorial Highschool 98?”
“Benar, apakah kau…?”
“Hugh, Hugh Answorth! Kau Molly kan?”
“OMG, Hugh! Pacarnya Wanda!”
“Well, used to. Hi, bagaimana kabarmu?”
“Baik, kok. Baik sekali.”
DING
“Breakfast?”
“Yeah, kau juga?”
“Yup, ayo berjalan bersama.”
Hugh menahan pintu elevator itu dengan tangannya dan membiarkan Molly berjalan lebih dahulu. Sebuah kebetulan yang sangat mengejutkan! Molly bertemu mantan temannya disini. Well sebenarnya ia sendiri tidak begitu dekat dengan Hugh. Ia hanya melihat mukanya beberapa kali di SMA dan di Prom Night bersama Wanda. Namun yang pasti ia banyak berubah. Figurnya dulu memang tinggi, namun ia terlihat lebih geeky dulu. Dengan banyak jerawat dan kacamata yang besar, badan besar itu terlihat disia-siakan.
Sekarang ia terlihat bugar dan sangat fit. Ia tidak lagi memakai kaca mata bodoh itu dan terlihat jauh, well, lebih ganteng.
“Selamat pagi. Room berapa?”
“Ummm, 1012.” Molly menjawab pertanyaan pelayan itu.
“Saya, 1204.”
“Miss Gingerhands, and Mr. Answorth. Welcome! Silahkan meja nomor 23.”
Pelayan itu berjalan mendahului mereka menuju meja yang diberikan kepada mereka. Beberapa pelayan yang lain menarik kedua kursi secara serenatk dan mempersilahkan mereka duduk.
“Thanks.” Molly t ersenyum kea rah pelayan lelaki yang menraik kursinya.
“Well, Molly. Sudah berapa lama kita tidak bertemu?”
“Lama sekali! Kau berubah sangat drastic Hugh.”
“Aku tahu, hahaha. College memang lebih, you know, liar.”
“Hahaha. Kamu datang kan nanti ke reunion kita.”
“Yup, di gedung sekolah yang lama kan?”
“Sepertinya.”
“Mau the atau kopi tuan, nyonya?”
“Teh.”
“Saya juga teh.”
Pelayan tersebut menuangkan the tersebut perlahan ke dua cangkir itu.
“Kamu ada acara siang ini?”
“Well, Rebecca mengajak ke Times Square.”
“Sayang aku tidak bisa, Aku ada meeting di kantor cabangku di New York.”
“Hahaha, poor you.”
Seorang pelayan berjalan disamping mereka. Namun tiba-tiba ia terpeleset. Ia jatuh dan gelas yang dibawanya pun ikut terjun menuju kemeja yang dipakai Hugh.
PRANG

Senin, 13 April 2009

Silhouette Murders Chapter 3.1A

Morgan Aiken
New York, 26th of September, 5:43 pm
Morgan mengangkat cetakan terakhir fotonya. Setelah memeriksa beberapa saat, Morgan menggantungnya engan dua buah clip di seuntai tali yang menggantung sepanjang ruangan kecil berwarna merah tersebut. Ruangan untuk mencetak berbagai foto TKP ini terletak di bagian belakang rumahnya, well, rumah ibunya tepatnya. Namun sang ibu sudah pindah ke Trinidad bersama ayah angkatnya, jadi ini adalah rumahnya sekarang.
Siang ini ia mengambil foto-foto dari Cassandra Conrad, seorang wanita yang bagian mukanya disayat habis sehingga hampir tidak bisa dikenali dan punggungnya ditusuk cukup dalam. Ia juga mengunjungi apartemen kecilnya di daerah Queens tadi siang.
Apartemen milik Cassandra Conrad sangat berantakan dan terlihat seperti tidak ditinggali dalam beberapa bulan terakhir. Berbagai kanvas yang menumpuk dan ditutupi kain kusam terpampang di sisi kanan ruang tamu. Cassandra Conrad adalah seorang pelukis freelancer, seperti yang dijelaskan Craig sebelumnya.
Craig berjalan mendahuli Morgan yang masih berusaha untuk membiasakan matanya pada kondisi ruangan yang sanagat temaram dan gelap. Ia berjalan menuju satu-satunya pintu di ruangan tamu itu. Kamar tidur tersebut terlihat rapih tidak disentuh. Sebuah kasur yang ditutupi oleh selimut dan lemari yang terdapat di pojok ruangan. Jendelanya tertutup rapat oleh papan-papan kayu yang dipaku paksa ke dinding. Satu-satunya sumber cahaya adalah ventilasi diatas jendela tersebut yang memasukkan secercah cahaya yang menampilkan jelas adegan debu-debu menari indah sepanjang ruangan.
Morgan mulai mengeluarkan kameranya dan memotret berbagai sudut ruangan. Ia berjalan dari kamar tidurnya menuju ruang tamu yang dipenuhi kanvas-kanvas tadi. Berbagai macam kuas dengan ujung cat yang kering berserakkan di lantai. Kaleng-kaleng cat yang sudah dibuka sejak lama juga dengan jelas terpampang di berbagai sudut ruangan. Jendela di ruang tamu itu tidak ditutupi dengan kayu. Sepasang gorden lusuh berwarna abu-abu menghalangi pandangannya dari pemandangan luar. Ruangan itu berwarna abu-abu dan sangat gelap, karena lampunya yang sengaja dipecahkan.
“Apa yang dilakukan wanita ini?”
Tanpa disadari, seekor tikus berjalan melewati kakinya. Morgan tersentak kaget dan jatuh menimpa berbagai kanvas yang didirikan di sudut kiri ruangan. Beberapa dari kanvas tersebut terbuka dan morgan bisa dengan jelas melihat lukisannya.
Ada 8 kanvas di ruangan itu. Dengan variasi ukuran yang berbeda-beda tentunya. Semua kanvas itu menunjukkan gambar yang sama namun berbeda. Setiap kanvas memiliki figur wajah seseorang yang berbeda-beda dan dicat hitam habis sehingga terlihat seperti siluet. Semua lukisan tersebut menampilkan posisi wajah yang sedang menengok ke samping searah. Yang aneh adalah tinta merah yang menghiasi berbagai wajah mereka. Ada yang memiliki warna merah seperti tali di lehernya, sebagai air matanya dan masih banyak lagi.
Semua di tempat dan bentuk yang berbeda-beda.
“Morgan apa yang kau la…… Pintu apa itu?”
Morgan menengok ke arah yang dilihat oleh Craig. Sebuah pintu berwarna hijau tua ditutupi oleh tumpukan kanvas tersebut. Morgan berdiri dan membersihkan bajunya yang dipenuhi dengan bercak-bercak debu. Craig membantunya berdiri dan berjalan menuju pintu tersebut.
Sebuah gembok emas mengunci pintu tersebut dari luar.
“Dikunci.”
“Dobrak saja Craig.”
“Hmm gimana ya, apakah tidak sebaiknya kita menunggu yang lain?”
“Well, siapa tahu ada bukti disana?”
“Humph, baiklah.” Craig berjalan mundur beberapa langkah , ia mempersiapkan posisi tubuhnya dan berlari menuju pintu hijau tersebut.
BRAK

Rabu, 08 April 2009

Silhouette Murders Chapter 2.5

Molly Gingerhands
Seattle, 26th September, Saturday 3:17 pm
“Hmm, apa yang ini cocok?”
“Molly, kamu bercanda? Memangnya ini acara prom night?”
“Well, yang mana dong Andrea?”
“Gak tauk, kan bukan aku yang jadi sekretaris di majalah bridal.”
“Hello? Gak ada hubungannya tauk!”
Andrea dan Molly sedang berada di sebuah department store dalam misi mencari dress yang cocok untuk menghadiri acara reunion bodoh itu. Andrea, teman kantorannya merupakan sahabat bagi Molly baik di kantor maupun di luar jam kerja. Maklum, keputusannya untuk pindah ke Seattle setelah universitas lumayan berani, mengingat semua teman lama dan kerabatnya ada di New York.
“Bagaimana dengan yang ini?”
Andrea mengangkat sebuah dress sleeveless berwarna ungu yang lumayan seksi. Namun ia tidak sedang mencari pacar ataupun one night stand.
“No, too revealing.”
“Ayolah, sudah lama kan kamu tidak ngedate?”
“Ihh, ni orang. Demen banget nyomblangin temennya.”
“Ini! Kayaknya oke nih!”
Kali ini Andrea menunjukkan sebuah dress yang sesuai dengan seleranya. Mini dress berwarna pastel yang tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu terbuka. Dan harganya? Pas di kantong!
“Aku ambil yang ini deh.”
“Sip, sepatunya?”
“Kayaknya udah ada yang matching di rumah.”
PIIIP…PIIIP…
“Telepon?”Molly mengambil handphonenya. “Claudia nelpon, Andrea kamu ke kasir saja dulu.” Claudia adalah Editor in Chief di majalah Banquet, bridal magazine nomor satu di Seattle.
“Oke.” Andrea melangkah pergi dan dalam sekali gerakan, Molly menjawab telepon tersebut.
“Halo Claudia?”
“Hi, Molly kau sedang dimana?”
“Di Wellington Street, ada apa?”
“Oh, lagi belanja ya? Enggak mau nanya aja, kamu hari senin pergi ke New York kan?”
“Yup, ada reuni.”
“Kebetulan, Vera Wang bersedia untuk diwawancara, namun aku tidak sempat untuk kesana. Jadi kamu saja yang mewawancarai dia.”
Dengan reflek Molly menjatuhkan HPnya. VERA WANG? Desainer wedding dress impiannya. Well impian sih, namun tetap saja, VERA WANG!!
“Halo, Molly? Masih disana?”
Tersadar dari lamunannya, Molly mengambil handphone tersebut dan menjawabnya dengan suka cita.
“Yes, aku bisa.”
“Baguslah! Vera Wang bersedia diwawancara pada hari rabu, di kantornya disana. Jadi kau kutugaskan untuk berada di New York selama seminggu.”
“Oke, thank you so much Claudia!”
“Sama-sama, bye Molly.”
PIIP
Bagaikan ketimpa tumpukan dolar runtuh, Molly tidak pernah merasa sesenang ini sebelumnya. Oh, a weekend in new york will never be as wonderful as this one. Molly berbalik dan berjalan menuju kasir, well tepatnya sih berlari.
“Andrea!! Good news!”
“Molly! Ngapain sih teriak-teriak? Gajimu naik?”
“Nope, BETTER!”
“Apa?”
“Aku akan mewawancari Vera Wang!”

Sabtu, 04 April 2009

Silhouette Murders Chapter 2.4

Bradley Cooper
New York, 27th of September, Sunday 10:37 pm
Bradley menghisap rokoknya dalam dalam dan menghembuskannya keluar. Suasana sekolah di saat malam merupakan salah satu suasana yang paling mengerikan, terlepas dari suasana kuburan tentunya. Namun yang lebih menyiksa adalah jika harus menjadi satpam disana. Sejak lulus dari SMA, ia mengalami penurunan secara gradual namun pasti. Di masa SMA, ia adalah salah satu murid paling bergengsi, tentunya dengan jabatannya sebagai kapten football namun setelah di drop out dari collegenya, ia terkatung-katung tanpa pekerjaan yang pasti. Pelayan di McD, badut di Coney Island, hingga terakhir satpam di SMAnya dulu. Longscape Highschool Memorial.
Bradley mematikan puntung rokoknya dan berjalan masuk menuju gedung sekolah itu.
“Ehmm, mister.”
Bradley menoleh dan melihat sebuah figur wanita yang tinggi dengan rambut blonde dan muka bermake-up lumayan tebal yang sayangnya tidak bisa ia lihat dengan jelas, kecuali bedak dan lipstik merah merona. Ia memakai mini skirt pendek metalik berwarna emas dan terlihat seperti seorang stripper langganannya di daerah Soho.
“Yes, miss?”
“Ehmm, boleh minta tolong gak?”
Bradley yang sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan ini dengan santainya mengangguk. Sudah sebualn sejak terakhir dia berhubungan intim dan inilah yang ia butuhkan sekarang. Wanita itu bergerak perlahan menaiki tangga, sambil menggerakan tubuhnya kesana kemari. Dia berdiri santai dihadapannya. Matanya melirik sebentar kea rah pintu gedung sekolah itu dan kembali menatap Bradley menggoda. Ia bisa melihat mukanya sekarang. Tidak begitu cantik, namun setidaknya tidak memuakkan untuk menemaninya melalui malam panjang ini. Tanpa pikir panjang Bradley memutar kunci pintu tersebut dan membukakannya.
Setelah menutup kembali pintu itu, menguncinya kembali, ia berbalik dan berjalan di belakang wanita tersebut.
“So miss, mau lihat apa? Kelas atau kolam renang?”
“Ehmm, yang mana aja fine kok. Sebenarnya dulu aku lulusan dari sini.”
“Oh ya? Tahun berapa?”
“Wanita tersebut berbalik dan menatap Bradley sejurus. Namun karena suasana ruangan yang gelap, Bradley tidak bisa melihat mukanya dengan jelas. Tapi yang pasti, ia bisa melihat wanita itu tersenyum kepada dirinya. Ia bergerak kearah Bradley dan berbisik di telinganya.
“1998, Bradley.”
Terkaget-kaget, Bradley berjalan mundur.
“Bagaimana kau tahu namaku?”
Wanita tersebut menarik rambutnya dan dengan sekali gerakan ia menunjukkan rambut aslinya. Karena gelapnya ruangan, Bradley tidak dapat menerka jelas apa warna rambut tersebut, tapi yang pasti bukan blonde. Ia bergerak perlahan menuju Bradley sambil mengeluarkan sebuah botol spray semacam parfum.
“Mau apa kau?” Bradley bertanya sambil mengeluarkan sebuah senter dari kantongnya.
Wanita tersebut perlahan-lahan memainkan wignya. Ia memelintir rambut palsu tersebut manjadi seperti tali dan memegangnya dengan kedua tangannya. Bradley dengan cepat menyalakan senter tersebut untuk dengan lebih jelas melihat mukanya, namun terlambat. Wanita tersebut berlari cepat menuju Bradley dan menubrukkan dirinya tepat di perut Bradley yang mulai mengembang akibat jumlah donat yang kerap ia makan.
Bradley tersungkur dan wanita tersebut menyemprotkan spray tersebut ke mukanya. Rasa pedih yang amat sangat dapat dirasakan Bradley akbiat semprotan botol itu. Ia meraung-raung kesakitan sementara wanitatersebut mulai berjongkok di perutnya. Ia memelintirkan wignya di sekitar leher Bradley dan mencekiknya sekuat tenaga. Bradley meronta-ronta dengan keras namun diluar dugaan, wanita tersebut memiliki tenaga yang tidak kalah dari seorang lelaki. Bradley berhasil menendang perut wanita tersebut dan meloloskan diri. Masih kesulitan bernapas, ia berjalan perlahan menuju pintu sambil memegangi mukanya yang kesakitan.
Wanita tersebut berdiri perlahan dan memegangi perutnya. Bradley menendangnya lumayan keras, namun belum cukup kuat untuk membuatnya pingsan. Bradley berusaha keras untuk membuka pintu itu kembali namun ia tidak bisa konsentrasi untuk menemukan kunci yang pas. Wanita tersebut menerjang Bradley kembali dan mencekiknya lebih keras dari sebelumnya. Bradley berusaha keras melonggarkan cekikan tersebut namun sudah terlambat.
Perlahan-lahan, Bradley kehilangan keseimbangannya dan jatuh di depan perempuan tersebut. Wanita tersebut memakai kembali wignya dan menarik kaki Bradley sambil bernyanyi.
Hmm….Hmm….. Why don’t you come lover…… Badum Badum Badum…. It’ll will be a night not to be missed……hmm…hmmm

Selasa, 31 Maret 2009

Hiatus Status

hueeh sibuknya dunia, maklum karena Dave belum beranjak menjadi seorang penulis 24/7, ia masih harus disibukkan dengan berbagai macam tes dan tugas yang tidak pernah berhenti menerjang dalam hidupnya. Konsekuensinya? Gw harus menunda penguploadan sisa dari chapter 2 ini. Bukannya belum selesai, tapi gw gak pengen keburu-buru, nanti malah jadi terkatung-katung dan gak jelas. Yah berdoa aja supa aimajinasi menyentuh gw di posisi otak yang pas, Thx

Sabtu, 28 Maret 2009

Silhouette Murders Chapter 2.3

Cheri Montgomery
New York, 26th of September, Saturday 9:35 am
Huh, hari sabtu malah masuk. Karena ada klien penting yang akan datang minggu depan, semua hari ii diwajibkan masuk untuk mengerjakan perkara yang masih belum selesai. Well, tidak untuknya. Kalau saja Mr. Dorian Welles sudah menyelesaikan draft bodoh itu, tentu hari ini rencana date bersama Mark bisa terlaksanakan. Namun ia terpaksa haru bekerja penuh hari ini. SHIT
Cheri Montgomery berusia dua puluh tiga tahun. Baru beberapa bulan ia bekerja disini. Well, sebenarnya ia ingin bekerja di perusahaan yang lebih fashionable seperti di majalah fashion dan sejenisnya. Namun sialnya, ia harus stuck di perusahaan dengan wanita-wanita dengan sense of fashion yang menyedihkan. Wanita yang bekerja disini ada dua jenis. Satu yang berumur tiga puluh tahun ke atas atau yang sudah menikah, so otomatis gaya berpakaiannya semua kuno. Dua perempuan-perempuan yang menyedihkan dan bisa dipastikan belum banyak pengalaman bercinta.
Namun beruntungnya ada dua orang yang bisa menemani dia. Kortnie dan Angela. Dua eksekutif muda ini lebih up to date masalah pakaian dan percintaan. Lucky Her.
Mr. Dorian masuk sekitar jam sepuluh. Setelah ia masuk ke dalam kantornya, Cheri menyusul membawa secangkir kopi dan koran New York Times yang dibacanya setiap pagi. Setelah memberikan jadwal appointment, yang hanya ada satu : makan siang dengan Matt, ia menunggu perintah tambahan yang tidaj pernah tidak ada dari Dorian. Hari itu dia meminta sepotong Hot Dog dari counter di depan gedung perkantoran mereka den selembar fotokopian mengenai makalah presentasi minggu depan.
Setelah memberikan kedua hal tersebut. Cheri kembali duduk di atas kursinya dan mulai melakukan kegiatan sehari-hari, browsing internet. Facebook, Myspace, dan Youtube sudah menjadi langganan sehari-hari. Tentu saja selama membuka halaman web tersebut, ia harus hati-hati dengan siap-siap mengganti windowsnya menjadi jadwal pertemuan Mr. Dorian dan hal-hal berbau bisnis lainnya.
Setiap harinya seseorang pasti akan datang ke dalam kantor tersebut dan mulai membagikan surat-surat kepada si asisten. Kebanyakan sih surat yang ditujukan untuk para bos. Namun, Lance yang biasanya bertugas hari ini digantikan oleh seorang pria berwajah aneh. Terlalu jantan untuk dibilang wanita dan terlalu wanita untuk dibilang lelaki. Rambutnya terulur panjang sebahu. Basah dan tidak terawatt. Oh, dank au pasti bisa menerka bahwa ia memakai bedak pagi itu. Well, percuma kok, mukamu tetap terlihat aneh pikir Cheri.
Ia berhenti di depan Cheri dan mulai mencari-cari surat untuk Mr. Dorian dari tray berisikan tumpukan surat yang ia bawa dari tadi. Ia mengeluarkan beberapa surat dan meletakkannya di atas meja Cheri. Ada tiga surat, satu tagihan asuransi, satu tagihan kartu kredit dan satu surat merah.
“Thanks.”
Si pengirim surat berdiri menatap Cheri dan terkekeh aneh.
“You know? Kau kelihatan sangat cantik.”
Sebagai seorang perempuan, siapa yang tidak suka dipanggil cantik? Namun entah kenapa, ia tidak merasa terpuji sama sekali oleh perkataan si lelaki aneh tersebut. Cheri memandang geli lelaki tersebut. Namun ia masih tetap berdiri dan mulai mendekatkan wajahnya ke Cheri.
“Maukah kau mendengar laguku?”
“What for? Pergi!”
Si lelaki tertegun den perlahan, mulai mundur. Ia tersenyum dan membalikkan badannya. Ia bergumam tidak jelas den Cheri berhasil menangkap beberapa kata. Namun tidak penting, untuk apa diingat-ingat. Well, munurtnya sih. Si lelaki berbelok pada belokan berikutnya dan mulai membagikan surat- surat tersebut ke asisten yang lain.
Cheri bergegas berdiri dan masuk ke kantor Mr. Dorian. Setelah mengetuk pintu tersebut, ia menonjolkan kepalanya di ambang pintu dan mulai berkata.
“Mr. Dorian ada surat.”
“Well, Cheri, taruh saja di laci ku!” Jawab Dorian tanpa melepaskan matanya dari draft yang sedari tadi ia buat di notesnya.
“Yes, sir.”
Ia berjalan, membuka laci paling atas, meletakkan surat-surat tersebut, dan berjalan kembali keluar. Hari sial ! Harus masuk kantor, pembagi surat yang aneh pula!
Cheri kembali duduk dan memikirkan gumaman aneh si lelaki tersebut. Betapapun Cheri bersikekeh untuk tidak menggubrisnya, ia tetap tidak bisa melepaskan kalimat tersebut.
Ba…s….de……am..........u…k……..p…ni…..ia……..ture…..f…ir